MALAM SAAT SUAMIKU MENGUSIRKU DI TENGAH HUJAN DERAS KARENA MENGANGGAPKU MISKIN…
Tepat pukul dua lewat tiga belas menit dini hari, lampu di lantai tiga puluh dua Gedung Pratama Capital kembali menyala
Tepat pukul dua lewat tiga belas menit dini hari, lampu di lantai tiga puluh dua Gedung Pratama Capital kembali menyala
Tim Audit Internal masuk lebih dulu. Di belakang mereka menyusul Direktur Legal, Kepala HRD, dan Sekretaris Dewan Komisaris. Tak seorang
Kalimat terakhir Pak Gunawan membuat Bu Rina kehilangan warna di wajahnya. Kantong plastik berisi makanan yang sejak tadi dia genggam
Maya menatap Rehan seolah sedang berhadapan dengan orang asing. Laki-laki yang selama dua tahun terakhir selalu menggenggam tangannya saat menyeberang
Pengacara keluarga itu bernama Darmawan Halim. Selama hampir tiga puluh tahun, dia menangani urusan hukum keluarga Pratama. Adrian mengenalnya sejak
Dewi tidak ingat bagaimana ia bisa berganti pakaian secepat itu. Yang ia ingat hanya suara Dimas yang terus bertanya kepada
“Kalau kalian tidak sabar, seharusnya dulu kalian tidak gagal saat merampok rumah itu.” Suara Ibu Herlina terdengar dingin. Bukan suara
Namaku Rendy. Usia 35 tahun. Dua tahun lalu, Maya, perempuan yang pernah bersumpah akan menemaniku dalam keadaan apa pun, memilih
Namaku Maya. Usia 35 tahun. Tiga tahun lalu, suamiku, Rendy, berpamitan pergi ke Sydney. Katanya, dia ingin membangun perusahaan sendiri
Malam itu, rumah kami dipenuhi suara percakapan dan aroma makanan yang baru matang. Aku mengundang Mama dan Papa Dimas, kakak