“Gali lebih dalam. Sebelum subuh, saya tidak mau ada orang yang menemukan dia.”
“Siapa yang punya akses?” tanya Raka. Ratih tersenyum pahit. “Anak-anak saya.” Ruangan rumah sakit mendadak terasa lebih dingin. Notaris Surya
“Siapa yang punya akses?” tanya Raka. Ratih tersenyum pahit. “Anak-anak saya.” Ruangan rumah sakit mendadak terasa lebih dingin. Notaris Surya
Sore itu, untuk pertama kalinya sejak bercerai, Rina merasa tidak takut kehilangan apa pun lagi. Ketakutan terbesarnya bukan kehilangan rumah,
“Kamu pikir ini pernikahan impianmu, Pak Budi?” bisik Siti dengan suara sedingin lantai kamar yang kupijak. “Pernikahan ini adalah akhir
Ketika aku membuka mata, hal pertama yang kurasakan bukan sakit. Melainkan kehilangan. Kaki kananku terasa begitu ringan, hampir seperti bukan
Pintu depan rumahku jebol dengan suara menggelegar. Aku bahkan tidak sempat berpikir. Tangan kananku menggenggam amplop cokelat yang diberikan Budi,
Maya menatap layar ponselnya begitu lama hingga angka-angka pada mutasi rekening itu terasa seperti bergerak di depan matanya. Bagas Pratama.
Pukul 15.40, Rina pulang lebih cepat dari biasanya dan menemukan ibunya duduk sendirian dalam gelap. Udara di ruang tamu terasa
Sepuluh tahun. Setiap bulan, tanpa pernah terlambat satu hari pun, Aris Pratama mengirim Rp35 juta untuk kedua orang tuanya di
Kaleng susu formula itu benar-benar kosong. Maya Safira mengguncangnya tiga kali di atas meja kayu yang sudah mengelupas. Tak ada
Sudah 19 hari Kirana terbaring di ruang perawatan Rumah Sakit Kebon Jeruk, Jakarta, ketika suaminya datang bukan untuk membawakan bunga,