PULANG LEBIH CEPAT DARI MAL DI JAKARTA SELATAN, AKU MEMERGOKI SUAMIKU MEMELUK SEORAN…
Ratna menatap ponselnya tanpa berkedip. Ruangan kantor Aris mendadak terasa terlalu sunyi. “Apa yang mau Papa ambil?” tanyanya akhirnya. Suara
Ratna menatap ponselnya tanpa berkedip. Ruangan kantor Aris mendadak terasa terlalu sunyi. “Apa yang mau Papa ambil?” tanyanya akhirnya. Suara
“Pak, tolong agak cepat.” Sopir taksi melirikku melalui kaca spion, lalu mengangguk. Mobil bergerak meninggalkan kompleks apartemen ketika aku masih
Pintu mobil terkunci sebelum Laras sempat meraih gagangnya. “Buka pintunya.” Arman tidak menjawab. “Arman, aku bilang buka.” Mobil terus melaju
“Perawat, saya suami Ayu Pramesti. Sore ini ada pasien hamil delapan bulan yang dibawa ke sini karena kontraksi atau perdarahan?
Sepanjang perjalanan pulang, Arman tidak mengatakan apa-apa. Namun tangannya tidak pernah benar-benar melepaskanku. Aku duduk di sudut kursi belakang, menatap
Sabtu malam akhirnya tiba. Hujan tipis membasahi Bandung ketika mobil kami berhenti di depan rumah besar milik Ibu Ratna. Dari
Lima hari setelah melahirkan melalui operasi caesar, aku seharusnya pulang ke rumah dengan tenang, berbaring di kamar, dan memeluk putriku
“Dan berkas itu diajukan atas nama Indah Permatasari.” Kalimat Bu Maya membuat udara di ruang tamu seolah berhenti bergerak. Saya
Pulang dua hari lebih cepat dari perjalanan dinas seharusnya menjadi kejutan kecil untuk istriku. Aku bahkan sempat membayangkan wajah Putri
“Sekarang bisa, Pak.” Kalimat itu keluar dari mulut saya dengan tenang, tetapi saya bisa melihat wajah Pak Bima berubah seolah