SARI SUDAH SELESAI MEMASAK, TETAPI IA MASIH SIBUK MENYUAPI KEDUA ANAKNYA YANG MASIH KECIL.
Arif berdiri di samping meja makan sambil menatap piring Sari yang hanya berisi nasi putih, sedikit kuah sayur dingin, dan
Arif berdiri di samping meja makan sambil menatap piring Sari yang hanya berisi nasi putih, sedikit kuah sayur dingin, dan
Arman masih menatap Nadia dengan wajah kaku ketika perempuan itu berdiri dari kursinya. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Nadia
Pada tahun 2006, adik laki-lakiku menghilang tanpa jejak. Selama 19 tahun, Ayah dan Ibu tak pernah berhenti mencarinya. Sampai suatu
Sudah empat tahun menikah, tetapi setiap malam Ardi selalu meninggalkan kamar mereka dan tidur di kamar ibunya. Selama empat tahun
“Kalau tidak punya uang, jangan mengaku sebagai kakeknya!” Suara Bu Ratna menembus derasnya hujan sore itu seperti pisau. Ayahku, Hendra
Pesan itu berbunyi singkat. Rina, Ayah sudah kembali ke Indonesia. Besok pagi kita harus bicara tentang saham perusahaan sebelum rapat
“Kurang Rp68.700. Jangan mengemis di kasir!” Suara Bram memotong riuh minimarket sore itu. Beberapa pelanggan menoleh, sebagian berbisik, dan dua
Kalimat Pak Hendra membuat dapur kecilku terasa mendadak kehilangan udara. “Bukti yang bisa membuat banyak orang kehilangan semuanya.” Aku menatap
Tanganku gemetar ketika membaca namaku sendiri di halaman terakhir. Salma Adiningrum. Di bawahnya ada tanda tangan yang sangat mirip dengan
Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu. Namun tanda tangan di halaman terakhir begitu mirip dengan milikku hingga selama beberapa detik