SUAMIKU BAHKAN TAK SABAR MENUNGGU PROSES PERCERAIAN KAMI SELESAI. DIA SUDAH MEMBAWA SELINGKUHANNYA…
Benda yang kuangkat dari dalam tas itu bukan surat cerai. Bukan pula foto perselingkuhan Ardi. Aku mengeluarkan sebuah map cokelat
Benda yang kuangkat dari dalam tas itu bukan surat cerai. Bukan pula foto perselingkuhan Ardi. Aku mengeluarkan sebuah map cokelat
Dimas merasa kedua lututnya kehilangan tenaga. Selama tujuh tahun, ia telah berusaha meyakinkan dirinya bahwa ibunya pasti sudah meninggal pada
Orang yang selama ini diam-diam mengambil uang kiriman putraku ternyata adalah menantu sulungku sendiri, Rina. Aku menatap layar itu cukup
“Jangan datang ke Puncak akhir pekan ini. Mama mendadak sakit dan harus dibawa ke Surabaya.” Pesan dari Dimas masuk pukul
Pagi berikutnya, Dimas Pratama datang ke kantor dengan langkah tergesa-gesa dan wajah kusut. Semalaman ia hampir tidak tidur. Bukan karena
“Kalau begitu, selama sepuluh tahun ini saya dianggap apa, Bu?” Bu Ratna terdiam. Hanya sesaat, tetapi cukup bagiku untuk melihat
Aku tersenyum tipis kepada Bu Ratna. “Selamat, Bu.” Hanya dua kata itu. Bu Ratna terlihat sedikit terkejut. Mungkin dia berharap
Aku menatap Arman yang masih memeluk Maya di depan pintu ruang perawatanku. Pemandangan itu seharusnya terasa menyakitkan. Dulu, mungkin aku
Karena di atas tumpukan selimut milik Ibu itu, ada sebuah amplop cokelat tua dengan namaku tertulis di bagian depan. Untuk
Tiga hari setelah Bima membawa Citra ke rumahku, aku mendatangi kantor notaris yang selama bertahun-tahun menangani urusan hukum perusahaan. Pak