IBU PACARKU MENGUSIRKU DARI RUMAH HANYA KARENA AKU TIDAK SENGAJA MENUMPAHKAN SEGELAS AIR DI MEJA MAKAN.
Namaku Laras. Malam itu, aku baru menyadari bahwa seseorang ternyata bisa diusir dari sebuah rumah hanya gara-gara segelas air. Bukan
Namaku Laras. Malam itu, aku baru menyadari bahwa seseorang ternyata bisa diusir dari sebuah rumah hanya gara-gara segelas air. Bukan
“Dok! Tolong! Anak saya muntah darah!” Teriakanku akhirnya membuat beberapa orang di ruang tunggu menoleh. Seorang perawat berlari menghampiri. Begitu
Maya menemukan nomor Raka bukan dari buku telepon keluarga. Nomor itu sudah lama dihapus. Bahkan foto-foto Raka di rumah lama
“Karena lantainya masih basah,” jawabku. “Kalau Bapak terpeleset, saya yang nanti disalahkan.” Beberapa detik Surya hanya menatapku. Lalu, untuk pertama
Aku masih ingat suatu sore, kami pernah duduk berdua di teras rumah itu. Saat itu Raka berkata kepadaku, “Kalau nanti
“Jangan sampai istriku tahu…” Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada apa pun yang pernah kurasakan. Tanganku yang menggenggam foto USG
Namaku Nadira. Usia kandunganku sudah memasuki tiga puluh delapan minggu. Dokter bilang, aku bisa melahirkan kapan saja. Pagi itu, Arga
Hanan menatap kunci di tanganku seolah benda kecil itu baru saja menghantam kepalanya. “Milikmu?” ulangnya pelan. Aku mengangguk. “Iya.” Jelita
Kesadaran kembali kepadaku sedikit demi sedikit. Bukan lewat cahaya. Bukan juga lewat suara. Melainkan lewat aroma antiseptik yang menusuk hidung.
Aku mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke saku. Di belakangku, Dilara masih berdiri sambil memegang tali tas kecilnya dengan