Anak-anak kandungku saling melempar tanggung jawab bahkan ingin membuang ku ke panti jompo. Namun, menantu yang dulu kuhina justru menerimaku dengan pelukan tanpa syarat. Tanpa ia tahu, aku membawa seluruh warisanku untuknya.
Santi berdiri kaku di tengah jalan. Untuk pertama kalinya pagi itu, kacamata hitam mahal yang dikenakannya tidak cukup mampu menyembunyikan










