AYAH TIRINYA MEMAKSANYA MENIKAH DENGAN GELANDANGAN DEMI MEREBUT WARISAN…
“Dan orang yang memberi perintah itu… ada di ruangan ini.” Kalimat itu menggantung di udara seperti pisau. Tak seorang pun
“Dan orang yang memberi perintah itu… ada di ruangan ini.” Kalimat itu menggantung di udara seperti pisau. Tak seorang pun
Taman mendadak sunyi. Enam ratus tamu seakan lupa cara bernapas. Rendra perlahan menoleh ke arah Siska. Lalu ke arah Clarissa.
Maya menatap Herman tanpa berkedip. Kalimat terakhir pria tua itu seperti memukul kepalanya lebih keras daripada semua penghinaan Rendy selama
Ratna menutup mata selama beberapa detik, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama empat belas tahun tidak pernah benar-benar dia miliki.
Maya tidak tidur sama sekali setelah menemukan kotak besi itu. Menjelang pukul lima pagi, ia masih duduk di lantai ruang
Amplop cokelat itu terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Lestari duduk di lantai loteng yang dingin, bersandar pada lemari kayu
Rendy berdiri terpaku di tengah keramaian terminal kedatangan Bandara Ngurah Rai. Orang-orang bergerak di sekelilingnya. Suara koper beradu dengan lantai,
Lima hari sebelum pernikahan putranya, Bu Hartati masuk ke rumah mewahnya sendiri di kawasan Pondok Indah melalui pintu belakang. Tak
Dewi tidak langsung menangis. Justru itulah yang membuat suasana ruang pemeriksaan terasa semakin menyesakkan. Dia hanya duduk diam, menatap nama
“Bima… anak siapa?” Pertanyaan Hendra jatuh di ruang tengah seperti benda berat yang menghantam lantai marmer. Tak seorang pun bergerak.