Suamiku mengira aku akan kehilangan kendali saat memergokinya memeluk perempuan selingkuhannya di sebuah kamar hotel.
“Kalau dia benar-benar marah besar?” Bu Renata tertawa pelan. “Itu justru yang kita butuhkan.” Aku berdiri di balik dinding dengan
“Kalau dia benar-benar marah besar?” Bu Renata tertawa pelan. “Itu justru yang kita butuhkan.” Aku berdiri di balik dinding dengan
Aku menatap perempuan yang selama lima tahun terakhir kupanggil Ibu itu. Tangisnya terdengar begitu meyakinkan. Bahu yang bergetar. Mata yang
“Aku tidak pernah bilang anak itu salah,” ulangku pelan. “Aku hanya sedang memastikan satu hal.” Raka mengerutkan kening. “Memastikan apa?”
Bel rumah berbunyi lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Arvin yang berbaring di atas tempat tidur langsung membuka mata lebih
Aku pernah mengira suamiku menjadi dingin hanya karena tekanan pekerjaan. Sampai suatu malam, aku melihatnya berlutut dan melamar perempuan lain
“Dan kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?” Kalimat Adrian terasa lebih dingin daripada udara ruangan itu. Aku tidak langsung
Paman Jaya menatapku seolah-olah aku baru saja mencabut seluruh lantai di bawah kakinya. “Tidak mungkin,” katanya lagi, kali ini lebih
Lima belas menit sebelum kereta cepat yang seharusnya kupimpin meninggalkan depo, suamiku memberiku sebutir permen mint. Beberapa jam kemudian, aku
Aku meninggalkan rumah keluarga Wijaya tiga hari kemudian tanpa berpamitan kepada Kak Raka. Bukan karena aku ingin menghukumnya. Aku hanya
Aku mengira pengkhianatan Arga adalah hal terburuk yang akan kutemukan malam itu. Ternyata aku salah. Ratih membuka laporan audit di