Aku selalu mengira pacarku cuma jual mahal, sampai suatu hari aku mendengar isi hatinya sendiri—Dan tiga kalimat pendek itu membuatku membuang minumannya lalu berhenti mengejarnya tanpa dia tahu alasannya.
Aku menatap buku catatan biru tua di tangan Aksa, lalu memalingkan wajah sebelum ekspresiku mengkhianati apa pun. “Nggak perlu,” ulangku.










