AKU MENIKAH DENGAN PRIA BERUSIA 79 TAHUN, DAN KELUARGAKU MENGANGGAP AKU TELAH MENJUAL DIRI DEMI UANG.
Aku berdiri lama di dalam toilet gedung pemakaman itu, memandangi laporan kematian di tanganku sampai huruf-hurufnya terasa kabur. Nama ibu.
Aku berdiri lama di dalam toilet gedung pemakaman itu, memandangi laporan kematian di tanganku sampai huruf-hurufnya terasa kabur. Nama ibu.
Lelaki itu adalah ayahku sendiri, Surya Mahendra. Nama itu nyaris tidak pernah kusebut di depan Ardi selama tujuh tahun pernikahan
PRAMUGARI MENGHILANG SELAMA 12 TAHUN. TIBA-TIBA, KOPER MILIKNYA MUNCUL DI BAN BERJALAN BANDARA! SAAT PETUGAS KEAMANAN MEMBUKANYA, WAJAHNYA LANGSUNG PUCAT
“Karena lebih baik semua roti itu hancur sekarang… daripada nanti ada satu saja anak yang menjadi korban.” Kalimat itu membuat
Kalimat pertama dalam surat Nadira membuat napasku tercekat. “Mas Arga, kalau Mas membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak sempat
“Rani… Dimas… besok seharusnya kalian berdiri di pelaminan. Kenapa sekarang kalian justru terbaring seperti ini…?” Suara Ibu Rani pecah di
Tubuhku seketika membeku. Di balik tanaman merambat dan semak yang menutupi ujung kebun, berdiri sebuah bangunan kecil dari bata merah.
Baju bayi kecil berwarna putih itu jatuh tepat di samping ranjang. Siti tidak berusaha mengambilnya. Matanya hanya terpaku pada dokter
“Karena aku bukan anak mereka.” Suara gadis itu tidak keras, tetapi kalimatnya menghantamku lebih kuat daripada apa pun yang pernah
Polisi itu menatap Ardi beberapa detik lebih lama, seolah sedang menimbang seberapa banyak kenyataan yang sanggup diterima seorang pria yang