Ana tahu Renan sudah datang. Dari balik etalase kaca kafe, ia melihat bayangan pria itu duduk dengan wajah gelisah, seolah tak sabar ingin segera bertemu dengannya. Namun Ana sengaja tetap melayani beberapa pelanggan lain. Kesibukan itu menjadi alasan untuk menunda percakapan yang sejak tadi membuat dadanya terasa sesak.
Malam itu, hujan turun deras di Jakarta ketika Ana tiba di sebuah restoran kecil di kawasan Menteng. Ia memilih meja










