Di depan ruang tunggu Laboratorium Genetik yang dingin terasa mencekam. Galih duduk dengan kaki bersilang penuh kesombongan. Matanya tak lepas menatap interaksi antara Sena, Eka, dan Cana di seberang bangku tunggu.
“Gak bisa dibiarkan. Mereka pikir aku bodoh?” Galih melangkah keluar dari balik pilar dengan napas memburu. Tangannya mengepal kuat, sementara










