AKU SUDAH MENANDATANGANI SURAT PENOLAKAN PENGOBATAN KARENA TAK INGIN PACARKU MENJUAL RUMAHNYA DEMI MENYELAMATKANKU.
Aku masih ingat suatu sore, kami pernah duduk berdua di teras rumah itu. Saat itu Raka berkata kepadaku, “Kalau nanti […]
Aku masih ingat suatu sore, kami pernah duduk berdua di teras rumah itu. Saat itu Raka berkata kepadaku, “Kalau nanti […]
“Jangan sampai istriku tahu…” Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada apa pun yang pernah kurasakan. Tanganku yang menggenggam foto USG
Namaku Nadira. Usia kandunganku sudah memasuki tiga puluh delapan minggu. Dokter bilang, aku bisa melahirkan kapan saja. Pagi itu, Arga
Hanan menatap kunci di tanganku seolah benda kecil itu baru saja menghantam kepalanya. “Milikmu?” ulangnya pelan. Aku mengangguk. “Iya.” Jelita
Kesadaran kembali kepadaku sedikit demi sedikit. Bukan lewat cahaya. Bukan juga lewat suara. Melainkan lewat aroma antiseptik yang menusuk hidung.
Aku mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke saku. Di belakangku, Dilara masih berdiri sambil memegang tali tas kecilnya dengan
Tiga minggu setelah Hendra menandatangani seluruh dokumen di hadapan notaris, dia menikahi Elsa. Aku datang ke akad itu. Bukan sebagai
Bel rumah berbunyi sekali lagi. Kali ini bukan sekadar bunyi pendek yang bisa pura-pura tidak didengar. Seseorang mengetuk pintu dengan
Pintu kantor Arga menutup pelan di belakang Nadira. Bukan bunyi pintunya yang membuat napasnya tercekat, melainkan suara kunci yang diputar
Nadine menerjang ke arah saya begitu cepat hingga bahunya hampir menghantam meja. Tangannya menggapai ponsel yang masih tersambung dengan Bu