“Jangan sembarangan bicara. Mereka bukan anak Anda!”
Rangga meninggalkan hotel dengan pikiran yang masih dipenuhi pertanyaan. Selama bertahun-tahun bekerja untuk Ersya, baru kali itu ia melihat atasannya […]
Rangga meninggalkan hotel dengan pikiran yang masih dipenuhi pertanyaan. Selama bertahun-tahun bekerja untuk Ersya, baru kali itu ia melihat atasannya […]
Saat itu aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Yang terus terngiang di kepalaku hanyalah wajah Amora dan Dini yang ketakutan.
Wulandari menghela napas panjang sambil meletakkan tas tangannya di atas sofa. Sorot matanya masih penuh penilaian ketika memandangi Nindy dari
Mobil melaju meninggalkan gedung perkantoran yang selama dua tahun terakhir menjadi saksi bagaimana harga diriku perlahan-lahan dihancurkan. Dari balik kaca
Nindy melangkah keluar dari gedung kantor dengan dada yang terasa sesak. Air matanya sudah menggenang sejak berada di dalam lift,
Karina menggenggam buket bunga itu begitu erat hingga beberapa kelopaknya mulai rontok ke lantai. Air matanya terus mengalir tanpa mampu
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar, tetapi tidak mampu menghangatkan hati Amora yang sudah membeku. Ia membuka
Aku menahan napas di balik pintu dapur, berusaha menangkap setiap suara dari dalam kamar Ajeng. Namun percakapan mereka berubah menjadi
Aku hanya bisa menunduk ketika sopir dan kondektur saling berpandangan dengan tatapan penuh iba. Beberapa detik kemudian, kondektur itu menghela
Aku tidak sanggup mengangkat wajahku. Kata-kata Wulan menusuk jauh lebih dalam daripada yang ingin kuakui. Selama seminggu terakhir aku benar-benar