“Dokter, saya mohon… hentikan semua alat bantu medis istri saya. Akhiri penderitaannya. Kami sudah ikhlas…”
Hasil laboratorium itu datang dua hari kemudian, tepat pukul enam lewat empat puluh pagi. Dr. Seto bahkan belum sempat menghabiskan
Hasil laboratorium itu datang dua hari kemudian, tepat pukul enam lewat empat puluh pagi. Dr. Seto bahkan belum sempat menghabiskan
Aku menatap Bu Ratih seperti baru saja mendengar kalimat paling tidak masuk akal sepanjang hidupku. “Dua juta per hari?” ulangnya
“Apa?” Aku menatap ibu mertua dengan mulut menganga. “Empat anak saja kita sudah kewalahan, Bu. Ibu masih mau aku punya
Aku langsung menatap Aldi, memastikan aku tidak salah dengar. “Dikeluarkan? Hendrik?” “Iya, Bu. Bukan cuma Hendrik. Tiga temannya juga,” jawab
“Kamu cuma ibu tirinya, sedangkan dia ibu kandungnya. Jadi, mengalahlah!” Kalimat itu keluar dari mulutku sendiri tiga hari lalu. Saat
Pagi itu, Alina tahu hidupnya benar-benar berubah ketika ia melihat wajahnya sendiri terpampang di gerbang sekolah. Tiga lembar kertas berukuran
Kalung perak itu baru beberapa menit berada di tempat sampah ketika ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dimas, kepala divisi
Perutku sudah bernyanyi lebih merdu daripada penyanyi dangdut semalam ketika suara motor berhenti di depan rumah. Aku yang sedang berdiri
Wajah Alvino masih terbayang di kepalaku bahkan ketika aku sudah berdiri di depan nurse station, membolak-balik status pasien dengan tangan
“Kalau kamu keluar dari rumah ini sekarang, maka kamu jangan pernah kembali lagi. Dan jangan harap aku akan mencarimu.” Suara