“Kamu mau cilok ini? Hah? Makan nih, sekalian sama plastiknya!”
Malam itu, setelah Mas Faiz tertidur sambil mendengkur keras, aku duduk di lantai dapur dengan ponsel di tangan dan Rara […]
Malam itu, setelah Mas Faiz tertidur sambil mendengkur keras, aku duduk di lantai dapur dengan ponsel di tangan dan Rara […]
Dika mengangkat tubuh Ambar dengan tangan yang gemetar. Napasnya memburu, pikirannya kosong. Yang ada di kepalanya hanya satu, menyelamatkan istri
Pupil mata Nolan bergetar saat menatap Nesya dan Citra bergantian. Dalam hitungan detik yang terasa seperti berjam-jam, napasnya tercekat, tenggorokannya
Percikan itu hanya sebesar ujung jarum. Namun dalam hitungan detik, sekam kering di bawah kabel mengeluarkan asap tipis. Api menjalar
Layar ponselku gelap tepat ketika tubuh Ibu jatuh di depan kandang. “Ibu!” Aku berteriak begitu keras sampai suaraku memantul di
Hujan belum juga mereda ketika Satyaraka kembali membawa payung kuning yang sempat terseret angin. Kaus kakinya telah berubah kecokelatan karena
Aku menatap kemeja putih yang diremas Mas Faiz hingga kusut. Air sabun menetes dari ujung kain, jatuh satu per satu
Pintu kamar barak itu belum sempat kubuka lagi ketika terdengar suara langkah sepatu lars menghantam lantai koridor dengan irama yang
Suara monitor jantung berdetak pelan memenuhi ruang VIP yang nyaris tak pernah berubah selama lima tahun terakhir. Semua orang mengira
Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut disanggul sederhana. Ia mengenakan blus putih