Aku menunggu janji lamaran Bima di bale bambu itu selama delapan tahun, sampai di hari pendaftaran UTBK aku melihat fotonya memeluk Sari si anak kepala dusun yang dulu merundungku, dengan jam warisan ibuku melingkar di tangannya, darahku langsung berhenti mengalir sedingin es.
Darahku seperti berhenti mengalir ketika Bima berkata bahwa barang yang ditemukan orang lain bukan lagi milik pemilik sebelumnya. Aku menatap










