PULANG LEBIH AWAL KE APARTEMEN AYAH, AKU TERKEJUT MELIHAT KULKASNYA KOSONG…
Jumat pagi, Pak Hendra bangun sebelum azan Subuh terdengar dari masjid di seberang kompleks apartemennya. Ia tidak tampak seperti seorang
Jumat pagi, Pak Hendra bangun sebelum azan Subuh terdengar dari masjid di seberang kompleks apartemennya. Ia tidak tampak seperti seorang
“Kalau kamu tidak pergi sekarang, aku yang akan memanggil keamanan kompleks.” Suara Dimas terdengar lebih keras dari sebelumnya. Namun Maya
Danu menatap ayahnya cukup lama. Perlahan, ia melepaskan satu tangannya dari bahu Maya. Kemudian ia maju dan berdiri tepat di
“Sembilan puluh tujuh persen.” Dua kata itu membuat Nadia merasa ruangan di sekelilingnya mendadak menyempit. Ia menatap layar komputer di
Pintu mobil tertutup pelan di sampingku. Sejak detik itu, aku berhenti berharap Raka akan memilihku. Sepanjang perjalanan pulang, hujan mengetuk
“Saya sudah punya pacar.” Kalimat itu keluar jauh lebih tenang daripada detak jantungku. Tangan Raka yang tadi mencengkeram pergelangan tanganku
“Citra pernah menjadi pasienku.” Kalimat itu membuat Raka akhirnya melangkah masuk ke ruang tindakan. Wajahnya masih pucat. Tatapannya jatuh pada
“Kenapa kamu memberi tanda suka?” Aku menatap pesan dari Aditya cukup lama. Hanya itu. Bukan menanyakan keadaan Raka. Bukan menanyakan
“Dimas, saya sudah memperingatkan Anda. Jangan menyentuh sesuatu yang menjadi milik keluarga saya.” Suara Raka terdengar dari ponsel Nabila di
“Itu benar. Akulah yang mengirim amplop tersebut.” Tatapan dua polisi di ruangan itu langsung berubah. Salah seorang dari mereka, Komisaris