Di hari aku menandatangani surat perceraian, suamiku sama sekali tidak menangis. Justru perempuan yang selama ini kukira telah merebut keluargaku yang tiba-tiba berlutut di hadapanku sambil menangis tersedu-sedu.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri memandangi ujung kertas kuning pucat yang menyembul dari saku jas Arga. Mungkin hanya










