Suamiku Mengejekku karena Selalu Bertanya, Dua Bulan Kemudian Ia Menemukan Surat Rawat Inapku
“Aku cuma mengatakan beberapa kalimat. Apa perlu kamu bersikap sejauh ini?” Aku menatap Gilang di bawah cahaya putih area parkir.
“Aku cuma mengatakan beberapa kalimat. Apa perlu kamu bersikap sejauh ini?” Aku menatap Gilang di bawah cahaya putih area parkir.
Surya menunjuk pintu dengan tangan gemetar, tetapi matanya tidak benar-benar basah. “Aku akan meninggalkan rumah ini. Anggap saja lima belas
Petugas pemakaman menatapku cukup lama ketika aku mengatakan ingin membeli satu lahan makam tepat di sebelah makam Ayah. “Untuk siapa,
Ratna tidak langsung pulang ke rumah. Begitu keluar dari gedung kantor Hendra, ia duduk di dalam mobil selama hampir sepuluh
Jumat pagi, Pak Hendra bangun sebelum azan Subuh terdengar dari masjid di seberang kompleks apartemennya. Ia tidak tampak seperti seorang
“Kalau kamu tidak pergi sekarang, aku yang akan memanggil keamanan kompleks.” Suara Dimas terdengar lebih keras dari sebelumnya. Namun Maya
Danu menatap ayahnya cukup lama. Perlahan, ia melepaskan satu tangannya dari bahu Maya. Kemudian ia maju dan berdiri tepat di
“Sembilan puluh tujuh persen.” Dua kata itu membuat Nadia merasa ruangan di sekelilingnya mendadak menyempit. Ia menatap layar komputer di
Pintu mobil tertutup pelan di sampingku. Sejak detik itu, aku berhenti berharap Raka akan memilihku. Sepanjang perjalanan pulang, hujan mengetuk
“Saya sudah punya pacar.” Kalimat itu keluar jauh lebih tenang daripada detak jantungku. Tangan Raka yang tadi mencengkeram pergelangan tanganku