Mantan Suamiku Memilih Muridnya Saat Kami Disandera, Lima Tahun Kemudian Ia Melihat Tangan Palsuku
“Citra pernah menjadi pasienku.” Kalimat itu membuat Raka akhirnya melangkah masuk ke ruang tindakan. Wajahnya masih pucat. Tatapannya jatuh pada
“Citra pernah menjadi pasienku.” Kalimat itu membuat Raka akhirnya melangkah masuk ke ruang tindakan. Wajahnya masih pucat. Tatapannya jatuh pada
“Kenapa kamu memberi tanda suka?” Aku menatap pesan dari Aditya cukup lama. Hanya itu. Bukan menanyakan keadaan Raka. Bukan menanyakan
“Dimas, saya sudah memperingatkan Anda. Jangan menyentuh sesuatu yang menjadi milik keluarga saya.” Suara Raka terdengar dari ponsel Nabila di
“Itu benar. Akulah yang mengirim amplop tersebut.” Tatapan dua polisi di ruangan itu langsung berubah. Salah seorang dari mereka, Komisaris
“Malam ini saya akan mengetahui berapa lama suami saya merencanakan penghancuran hidup saya.” Kalimat itu keluar dari mulutku jauh lebih
Pagi berikutnya, pukul 06.17, Raka Mahendra berdiri di tengah ruang keluarga rumah Pondok Indah yang mendadak terasa asing. Lemari pakaian
Kamera ponsel itu miring, tepat mengarah kepada mereka berdua. Bayu berdiri di belakang Maya, lalu membungkuk untuk mengangkat ujung gaun
Pukul 13.27, Dimas menelepon Maya. Sekali. Tidak diangkat. Dua kali. Tetap tidak diangkat. Pada panggilan ketiga, Dimas bahkan tidak menunggu
Malam itu, Rina tidak menunggu Ibu Hartini pulang untuk memulai pertengkaran. Dia justru membuka rantai kulkas dengan tang potong yang
Maya menatap nama Bagas Pratama yang berulang kali muncul di layar ponselnya. Untuk pertama kalinya sejak menikah tujuh tahun lalu,