SUAMIKU SENGAJA MENYEMBUNYIKANKU DARI PESTA MEWAH KARENA KELUARGANYA MENGANGGAPKU KAMPUNGAN.
“Jangan datang ke Puncak akhir pekan ini. Mama mendadak sakit dan harus dibawa ke Surabaya.” Pesan dari Dimas masuk pukul
“Jangan datang ke Puncak akhir pekan ini. Mama mendadak sakit dan harus dibawa ke Surabaya.” Pesan dari Dimas masuk pukul
Monitor CCTV di pos satpam tiba-tiba terasa lebih menarik daripada televisi delapan puluh inci di ruang keluarga. Pak Darno berdiri
Pagi berikutnya, Dimas Pratama datang ke kantor dengan langkah tergesa-gesa dan wajah kusut. Semalaman ia hampir tidak tidur. Bukan karena
Saya baru tahu bahwa sebuah pernikahan bisa berakhir bahkan sebelum bunga-bunga di pelaminan layu. Malam itu saya duduk di kursi
Pagar besi itu masih terkunci ketika Raka menatapku dengan wajah yang perlahan kehilangan warna. “Anda?” Satu kata dari Pak Hendra
Tepuk tangan yang semula memenuhi auditorium perlahan mati ketika aku melangkah ke atas panggung sambil menggendong Raka. Aku masih bisa
Aku menunjuk pintu. “Rumah ini milikku.” Untuk pertama kalinya malam itu, mabuk di wajah Galang seperti menguap. Dia menatapku beberapa
Aku baru menyadari ada sesuatu yang benar-benar salah ketika tiga hari kemudian aku terbangun dan menemukan seorang pria berdiri di
Toh Galang tidak akan pernah tahu. Setidaknya, itulah keyakinanku malam itu. Tiga hari kemudian, aku mulai curiga bahwa semesta punya
“Kalau begitu, selama sepuluh tahun ini saya dianggap apa, Bu?” Bu Ratna terdiam. Hanya sesaat, tetapi cukup bagiku untuk melihat