SEBULAN SETELAH BERCERAI, AKU BARU TAHU BAHWA AKU HAMIL. SECARA LOGIKA, AKU SEHARUSNYA TIDAK MEMPERTAHANKAN BAYI INI.
Aku tersenyum tipis kepada Bu Ratna. “Selamat, Bu.” Hanya dua kata itu. Bu Ratna terlihat sedikit terkejut. Mungkin dia berharap
Aku tersenyum tipis kepada Bu Ratna. “Selamat, Bu.” Hanya dua kata itu. Bu Ratna terlihat sedikit terkejut. Mungkin dia berharap
Aku menatap Arman yang masih memeluk Maya di depan pintu ruang perawatanku. Pemandangan itu seharusnya terasa menyakitkan. Dulu, mungkin aku
Karena di atas tumpukan selimut milik Ibu itu, ada sebuah amplop cokelat tua dengan namaku tertulis di bagian depan. Untuk
Tiga hari setelah Bima membawa Citra ke rumahku, aku mendatangi kantor notaris yang selama bertahun-tahun menangani urusan hukum perusahaan. Pak
Suara mesin kecil itu terus berdengung di dekat telingaku. Bzzzzzz… Aku ingin mengangkat tangan. Ingin mendorong siapa pun yang berada
Wajah Ibu benar-benar pucat. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Hanya terdengar suara kipas angin
Aku menatap Nisa dan Reza bergantian. Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab. Kamar itu terasa jauh lebih sempit daripada
Bu Ratna tidak pernah menyangka bahwa pagi pertama setelah putranya menikah justru akan menjadi pagi yang mengubah cara pandangnya terhadap
“Aku sebenarnya adalah seseorang yang mengenal suamimu.” Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Tanganku mendadak dingin. Di bawahnya masih ada satu
Aku tidak pernah menyangka kalimat sederhana Bima malam itu akan menjadi sesuatu yang terus terngiang di kepalaku. “Citra, ini yang