DI TENGAH PESTA PERTUNANGANNYA, SANG PUTRI TERSENYUM DI SAMPING CALON SUAMINYA…
Polisi memasuki halaman Vila Asri Wijaya tanpa menyalakan sirene lagi. Musik telah berhenti. Puluhan tamu berdiri membeku di bawah cahaya
Polisi memasuki halaman Vila Asri Wijaya tanpa menyalakan sirene lagi. Musik telah berhenti. Puluhan tamu berdiri membeku di bawah cahaya
“Kalau Siti membawa anak itu lagi ke penthouse, suruh dia bereskan barang-barangnya hari ini juga.” Arya Pratama tidak mendengar kalimat
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Rendra tidak menundukkan kepala ketika ibunya meninggikan suara. Tatapannya tertuju lurus kepada Ratna.
Keesokan paginya, pukul delapan lewat dua puluh menit, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Doni. Haris turun dari kursi
Pukul 5.47 pagi, Maya Sanjaya membaca pesan itu tiga kali. “Jangan hadapi Hendra sendirian. Sebagian dana yang masuk ke rekening
PUTRINYA MENJEBAKNYA DENGAN TIGA PENGACARA DAN SURAT KUASA ATAS SELURUH HARTANYA. NAMUN SANG IBU HANYA MENGANGKAT TELEPON, LALU MEMBONGKAR SATU
“Mas?” Raka akhirnya mengangkat wajah. Tatapan kami bertemu. Namun yang kulihat di matanya bukan kemarahan. Bukan pula keberanian. Hanya ketakutan
“Kalau dia benar-benar marah besar?” Bu Renata tertawa pelan. “Itu justru yang kita butuhkan.” Aku berdiri di balik dinding dengan
Aku menatap perempuan yang selama lima tahun terakhir kupanggil Ibu itu. Tangisnya terdengar begitu meyakinkan. Bahu yang bergetar. Mata yang
“Aku tidak pernah bilang anak itu salah,” ulangku pelan. “Aku hanya sedang memastikan satu hal.” Raka mengerutkan kening. “Memastikan apa?”